Hargailah Cinta dan Kasih Sayang, karena Keduanya Selalu Menyertai Kehidupan Kita

Jumat, 10 Agustus 2018

Belajar dari Kisah Seorang Bapak Tua

Aku melihat seorang bapak tua bersandaran di tubuh pohon yang sedang meneduhkannya di suatu sore, berharap sebentar lagi dia kehilangan rasa lelah, letih, dan ketidakberdayaannya. Ini sore ke sekian ribu kalinya dia berada di sana. Ini hari ke sekian ribu kalinya dia berjuang untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya.

Belum pernah terlihat dia mengeluh, belum pernah terdengar dia mengutuk nasibnya. Dia, bukan seorang Ayah yang bisa memegang uang 1 juta, 2 juta, 3 juta bahkan lebih untuk dikibaskan di depan anak istrinya sambil tertawa. Dia hanya seorang Ayah yang bisa memulangkan uang seberapa pun kecil nilainya, tapi dia sekeluarga selalu bersujud mensyukuri semua kenikmatan dari Allah yang telah menghidupkan mereka berpuluh-puluh tahun lamanya.

Dia bukan seorang Ayah yang eksis seiring perkembangan zaman hingga bisa menikmati apa pun yang sedang trend dalam setiap masa, karena dia tahu itu bukanlah masanya. Masanya adalah masa seorang Ayah yang wajib memenuhi kebutuhan keluarganya. Dia seorang Ayah yang rela memberikan sepenuhnya hasil kerja kerasnya untuk keluarganya tanpa mengeluh. Bukan seorang Ayah yang menyesal uangnya habis padahal itu untuk mengobati anaknya sendiri.

Minggu, 29 April 2018

Kepadamu Calon Imamku


Kepadamu calon imamku, aku belum tahu dalam keadaan seperti apa Allah akan mempertemukan kita berdua. Entah kau adalah rahasia yang selama ini menjelma sebagai seorang teman, sahabat, masa lalu, atau bukan untukku, yang jelas kau adalah masa depanku. Seperti apa pun kamu, demi Allah kelak akan ku baktikan seluruh sisa hidupku untukmu. Akan ku persembahkan sebentuk hati yang utuh kepada-Nya yang akan menuntutku untuk selalu bertanggung jawab sebagai sebaik-baiknya pasangan untukmu.

Di usiaku yang cukup matang membina rumah tangga ini, jujur saja mengetahui siapa dirimu adalah keinginan terbesarku saat ini. Aku ingin sekali mengetahui namamu dan menyebut namamu dalam setiap do’aku. Tapi, bagaimana bisa ku sebut namamu dalam do’a sementara namamu saja masih terpelihara dalam Lauhul Mahfudz tanpa ada seorang manusia pun yang mengetahuinya. Entah siapa kamu, kapan kita akan bertemu, bagaimana kita bertemu, semua masih menjadi rahasia-Nya.

Selasa, 13 Maret 2018

Percayalah, Dia Akan Datang

Untuk yang masih berada dalam masa penantian, kau harus yakin, bahwa pada akhirnya akan hadir seseorang yang datang dan membuatmu sadar dan berhenti melakukan kesalahan-kesalahan terkecil hingga terbesar yang selama ini kau tekuni. Entah karena dia ingin menerimamu apa adanya atau sekedar terpaksa. Semua akan berujung pada terbiasa entah itu akan mendatangkan kebahagiaanmu karena ikhlasnya atau kesedihanmu karena murkanya atas keadaanmu. Semuanya adalah konsekuensi yang bagaimana pun harus kau terima. Sebab, kesalahan atau kebaikan yang kau buat sesungguhnya berasal dari dan akan kembali padamu juga.

Sesekali kau mungkin lelah, tapi percayalah, dia akan datang. Kedatangannya akan menjadi sebuah peristiwa yang belum pernah kau duga. Semua akan terasa tiba-tiba. Tiba-tiba dia datang, tanpa sadar dia sedang berusaha mendekatimu, tiba-tiba dia meminta hatimu, tiba-tiba dia menikahimu. Tiba-tiba dia ada di sampingmu, menemanimu tidur sepanjang malam. Dan kau akan terdiam dan teringat bahwa kau pernah sangat lama menanti hari ini. Tapi tak disangka-sangka dia yang kau tunggu telah sah menjadi milikmu.

Minggu, 10 Desember 2017

Edelweis (Last Part)

24 September 2027, kita akhirnya resmi menjadi sepasang suami istri. Kau suamiku dan aku istrimu. Rasa syukur yang tiada hentinya ku persembahkan kepada Tuhan.

Selama sepuluh tahun ini, Dia telah menyabarkanku, menguatkan cintaku. Tlah Dia berikan ketentraman dalam setiap sujudku untuk tetap menenangkan diriku setelah berpisah darimu sepuluh tahun yang lalu. Walaupun kita terpisah dalam jarak tanpa suara yang terdengar dari mulut kita, tanpa ada sepatah kata pun yang kita ungkapkan lewat sebuah pesan singkat, Dia tetap memelihara cintaku. Dia ijinkan kita berjalan menembus waktu yang cukup panjang, melewati segala rintangan yang menghadang hingga kita tiba di hari itu, mengucap ikrar sehidup semati dalam ikatan tali suci pernikahan hingga kita mati dan kembali pada-Nya dengan tenang. Dan setiap malam yang pernah ku jalani tanpamu adalah saksi bisu kesungguhan cintaku padamu yang walaupun kita berada dalam jarak yang terpisah jauh, tapi aku masih mampu mengucap namamu dan bilang bahwa aku merindukanmu.

Malam itu, malam pertamaku bersamamu. Di dalam kamar pengantin kita, kau bilang kau sangat merindukan saat-saat berdua bersamaku seperti saat itu. Kita berpelukan sebentar dan aku melepaskan pelukanmu dan tersenyum memandangmu. Ku raih sesuatu dari bawah tempat tidur. Itu adalah sebuah kotak yang usianya sudah sangat tua. Ku buka kotak itu dengan tersenyum lebar. Di dalam kotak itu terbaring edelweis yang mengering, dua mahkotanya sudah lepas dari kelopaknya seiring dengan gugurnya semangatmu mendaki. Ku angkat edelweis itu dan ku persembahkan padamu sesuai janjiku pada diriku dulu, “kelak, jika kau teringat kembali padaku akan ku persembahkan edelweisku sebagai bukti keabadian cintaku padamu”.

Edelweisku, jodohku, kau adalah wadah untukku merealisasikan semua yang pernah ku pelajari di masa lalu. Tempatku memulai kehidupan baru yang lebih baik tanpa harus mengenal gagal lagi.