Hargailah Cinta dan Kasih Sayang, karena Keduanya Selalu Menyertai Kehidupan Kita

Selasa, 29 Agustus 2017

Berbeda

Teruntuk kamu Sahabat,
Sang pemilik kisah ini, DWA.

Kau tahu ? Aku pernah menjalani kisah cinta dengan seseorang yang berbeda keyakinan. Darinya aku belajar menghargai perbedaan, darinya aku belajar bagaimana berjalan sambil meleburkan perbedaan yang begitu besar supaya terlihat serasih di mata masyarakat. Meskipun pada akhirnya, tak ada satu pun yang menganggap kami serasih. Dan yang lebih berkesan adalah dengannya aku lebih dekat dengan Tuhanku, aku lebih taat beribadah pada Tuhanku. Dan dia pun begitu pada Tuhannya.

Tapi, semakin aku merasa dekat dengan Tuhanku, semakin aku merasa bersalah atas apa yang tengah ku jalani. Namun tetap saja, meninggalkannya sangat sulit ku lakukan.

Aku sudah bertanya pada para ustadz, para imam, hingga para ulama, dan mereka menyalahkanku habis-habisan. Dalam pelukan istri seorang ulama aku menangis, aku berkata,
"Benarkah aku salah ibu ? Aku sudah sangat mencintainya. Bisakah aku tetap bersamanya untuk mengajaknya berjalan bersama denganku ke duniaku? dunia Islam"
Sang ulama mendengar ucapanku. Kali ini dia mulai menurunkan nada bicaranya.
"Nak, pulanglah. Baca Q.S. Al-Baqarah ayat 256. Semoga kau menemukan jawabannya"

Aku pulang, ku baca ayat yang disebutkan sang ulama tadi. Di sana tertulis,
"Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barangsiapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (Q.S. Al-Baqarah, 2: 256)
Aku menangis hingga air mataku menetes ke lembar Al-Qur'an yang tengah ku buka. Ya, aku salah. Tidak ada paksaan dalam menganut agama Islam. Bukan tugasku sibuk mempengaruhi seseorang menganut agamaku sedang dia sendiri sangat taat dalam agamanya. Meskipun dia mencintaiku. Jika kami sama-sama sedang mendalami ajaran yang kami anut, harusnya kami tahu jalan seperti apa yang tengah kami jalani. Dan jika dia merasa jalan yang dia pilih salah, harusnya dia sudah berbelok untuk berjalan mengikutiku. Tapi tidak, dia tetap pada jalannya, dan aku tetap pada jalanku.

Aku teringat pada perkataan Ayahnya yang mengatakan bahwa kami sebenarnya berjalan dalam dua jalan berbeda yang dahulu adalah sama. Abraham yang dia kenali dalam ajarannya sesungguhnya adalah Ibrahim yang ku kenal dalam ajaranku. Jadi, tidak salah jika memang aku dan dia tetap bersama dalam perbedaan itu.

Aku kembali pada sang ulama tadi, dia berkata.
"Nak, ayat yang ku sampaikan padamu sesunggunya sudah menjelaskan semua itu. Sesungguhnya telah jelas perbedaan antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Kembalilah pada Allah, nak. Selama ini kau mendekati Allah hanya agar kekasihmu melihat bahwa kau muslim, agar kekasihmu mengenal bagaimana kau beribadah, agar dia tahu bagaimana Islam, agar dia tau bahwa kau setaat itu hingga tak mungkin bagimu meninggalkan Islam. Tapi nak, jika kau telah berhasil mengenalkan islam padanya, mengapa dia belum juga mengikuti Islam ? Dan juga nak, salahmu adalah, seorang muslim sejati tidak akan menjalin hubungan percintaan dengan umat yang berbeda. Kau taat, tapi kau menjalani kesalahan itu. Kau mengenalkan Islam yang salah padanya. Tinggalkan dia nak. Jika memang dia untukmu, dia akan kembali padamu. Bukan karena cintamu, tapi karena agamamu."
Aku menangis, dalam sesaat aku menyesal. Aku malu. Aku salah.

2 komentar:

  1. Saat kita mendekati Allah Azza wa Jalla karena sesuatu maka kita akan menjauh dari Allah azza wa Jalla saat seuatu itu pergi. Takkan bertahan lama. Mulailah sesuatu yang baik dengan cara yang baik, yang di ridhoiNya.

    BalasHapus