Hargailah Cinta dan Kasih Sayang, karena Keduanya Selalu Menyertai Kehidupan Kita

Selasa, 13 Maret 2018

Percayalah, Dia Akan Datang

Untuk yang masih berada dalam masa penantian, kau harus yakin, bahwa pada akhirnya akan hadir seseorang yang datang dan membuatmu sadar dan berhenti melakukan kesalahan-kesalahan terkecil hingga terbesar yang selama ini kau tekuni. Entah karena dia ingin menerimamu apa adanya atau sekedar terpaksa. Semua akan berujung pada terbiasa entah itu akan mendatangkan kebahagiaanmu karena ikhlasnya atau kesedihanmu karena murkanya atas keadaanmu. Semuanya adalah konsekuensi yang bagaimana pun harus kau terima. Sebab, kesalahan atau kebaikan yang kau buat sesungguhnya berasal dari dan akan kembali padamu juga.

Sesekali kau mungkin lelah, tapi percayalah, dia akan datang. Kedatangannya akan menjadi sebuah peristiwa yang belum pernah kau duga. Semua akan terasa tiba-tiba. Tiba-tiba dia datang, tanpa sadar dia sedang berusaha mendekatimu, tiba-tiba dia meminta hatimu, tiba-tiba dia menikahimu. Tiba-tiba dia ada di sampingmu, menemanimu tidur sepanjang malam. Dan kau akan terdiam dan teringat bahwa kau pernah sangat lama menanti hari ini. Tapi tak disangka-sangka dia yang kau tunggu telah sah menjadi milikmu.

Minggu, 10 Desember 2017

Edelweis (Last Part)

24 September 2027, kita akhirnya resmi menjadi sepasang suami istri. Kau suamiku dan aku istrimu. Rasa syukur yang tiada hentinya ku persembahkan kepada Tuhan.

Selama sepuluh tahun ini, Dia telah menyabarkanku, menguatkan cintaku. Tlah Dia berikan ketentraman dalam setiap sujudku untuk tetap menenangkan diriku setelah berpisah darimu sepuluh tahun yang lalu. Walaupun kita terpisah dalam jarak tanpa suara yang terdengar dari mulut kita, tanpa ada sepatah kata pun yang kita ungkapkan lewat sebuah pesan singkat, Dia tetap memelihara cintaku. Dia ijinkan kita berjalan menembus waktu yang cukup panjang, melewati segala rintangan yang menghadang hingga kita tiba di hari itu, mengucap ikrar sehidup semati dalam ikatan tali suci pernikahan hingga kita mati dan kembali pada-Nya dengan tenang. Dan setiap malam yang pernah ku jalani tanpamu adalah saksi bisu kesungguhan cintaku padamu yang walaupun kita berada dalam jarak yang terpisah jauh, tapi aku masih mampu mengucap namamu dan bilang bahwa aku merindukanmu.

Malam itu, malam pertamaku bersamamu. Di dalam kamar pengantin kita, kau bilang kau sangat merindukan saat-saat berdua bersamaku seperti saat itu. Kita berpelukan sebentar dan aku melepaskan pelukanmu dan tersenyum memandangmu. Ku raih sesuatu dari bawah tempat tidur. Itu adalah sebuah kotak yang usianya sudah sangat tua. Ku buka kotak itu dengan tersenyum lebar. Di dalam kotak itu terbaring edelweis yang mengering, dua mahkotanya sudah lepas dari kelopaknya seiring dengan gugurnya semangatmu mendaki. Ku angkat edelweis itu dan ku persembahkan padamu sesuai janjiku pada diriku dulu, “kelak, jika kau teringat kembali padaku akan ku persembahkan edelweisku sebagai bukti keabadian cintaku padamu”.

Edelweisku, jodohku, kau adalah wadah untukku merealisasikan semua yang pernah ku pelajari di masa lalu. Tempatku memulai kehidupan baru yang lebih baik tanpa harus mengenal gagal lagi.

Rabu, 29 November 2017

Edelweis (Part Cinta Pertama)

Cinta pertama. Jika berbicara tentang cinta pertama, semua pasti setuju bahwa cinta pertama adalah cinta yang paling sulit dilupakan. Cinta yang hanya memiliki satu alasan, yaitu cinta itu sendiri. Cinta tanpa batasan perasaan ini, itu. Cinta yang mengajarkan kita banyak hal. Suka maupun duka yang pernah kita alami bersamanya akan selalu menjadi kenangan terindah yang mempunyai tempat tersendiri di hati dan pikiran kita.

Sesakit apa pun luka yang cinta pertama berikan, tak ada alasan untuk mengabadikan kebencian padanya. Pada akhirnya, ketika kita sudah menjalin cinta bersama yang lain, luka itu akan memperingatkan kita tentang pantas tidakkah kita terlena dalam kebahagiaan yang kita peroleh. Itulah alasannya mengapa hati lebih mudah mengingat luka daripada bahagia. Sebab luka yang kelak menguatkan kita dalam menghadapi masalah. Luka yang kelak akan mengendalikan kita agar tidak terluka lagi. Luka-luka yang ku ceritakan itu adalah lukaku pada cinta pertamaku.

Cinta pertamamu, dia tak pernah menorehkan luka di hatimu, bukan dia. Tapi sang Merbabu yang kau anggap tlah merenggut nyawa kekasihmu dengan kejam. Merbabu yang tak bernyawa, Merbabu yang tak tahu apa-apa, dan Merbabu yang tak pernah mengirimkan undangan padamu untuk mengunjunginya. Lalu bagaimana dia tahu kau akan ke sana dan merencanakan kematian kekasihmu ?. Bagaimana ?. Kau tersesat. Jika benar itu cinta, harusnya bisa membawamu pada jalan yang lebih benar. Tapi, kematian seorang saja dalam hidupmu tlah menyesatkanmu. Aku bahkan sudah jarang menyaksikan kau menyempatkan diri untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Apa kau pikir kekasihmu butuh pembalasan dendammu atas kematiannya ? Tidak. Dia butuh do’amu jika benar yang tertanam dalam hatimu itu adalah cinta.

Hei, semua orang punya cinta pertama. Kau, aku, semua orang. Mengapa kau memutuskan untuk berhenti di situ jika memang waktu bersamanya telah berakhir ?. Aku sudah menjalin hubungan dengan beberapa lelaki. Beberapa menganggapku cinta pertamanya, tapi hanya satu cinta pertamaku. Tapi tak ada masa lalu yang membuatku terlena hingga sekarang, hingga aku harus menyakiti orang yang berniat bersamaku di masa kini. Biarkan dia menjadi kenangan sebagai pelajaran agar kita tidak terluka pada hal yang sama lagi. Masa lalu bukan untuk dibawa kemana-mana.

Kau memang tak sepertiku yang disakiti sebelum ditinggalkan. Kisahmu berbeda. Tapi Edelweis, bukan seperti itu, caramu salah. Aku teringat pada kata-katamu bahwa kita hanyalah manusia biasa, yang tak tahu kapan dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Jangan sampai menanam cinta yang begitu subur dalam hati seseorang, ketika waktunya dipanggil, cinta yang kita tanam malah menjadi penyakit yang menggerogoti hati pemiliknya sampai habis rasanya, entah kemana perasaan akan dia bawa. Seharusnya jika kau sudah berpegang teguh pada kata-katamu, seharusnya sekarang kau sudah bangkit dari keterpurukanmu dan melanjutkan kehidupan yang seharusnya kamu jalani sekarang.

Semoga kelak, kau akan sadar bahwa kau salah. Masa lalu bukan untuk dibawa, cukup dijadikan kenangan. Cukup dijaga agar tidak merusak masa kini.