Hargailah Cinta dan Kasih Sayang, karena Keduanya Selalu Menyertai Kehidupan Kita

Sabtu, 12 Agustus 2017

Pesan Terakhir


Hari ini, aku berdiri  lagi di sini. Di tempat dimana kita biasa berbagi. Aku teringat lagi tentangmu. Hal yang sudah ku hapuskan dari rutinitasku. Ingatkah kamu saat setahun yang lalu ketika kamu memintaku kembali, jawabanku hanya, "Sudahlah, mungkin hidup ini tidak akan panjang untukku". Kamu lantas menatapku heran dan terus memintaku. Kamu yang meyakinkanku untuk bisa tetap semangat menjalani hidup dan tetap bisa merasakan jatuh cinta dan memiliki seperti yang lain.

Tapi, beberapa bulan lalu kamu dengan tega melepaskanku. Kamu, kamu. Oh entah dengan kata apa aku harus mengataimu atas kekejaman itu. Belakangan aku tahu bahwa ternyata kamu tertarik ke lain hati.

Lalu beberapa minggu lalu, setelah mengusirku, mengapa kamu masih hadir membawa asa sementara hari-harimu kamu habiskan bersamanya. Mengapa masih berani menunjukkan rasa, sementara rasamu telah kau bagikan padanya. Apa kamu tahu ? Aku tidak sebodoh itu. Membiarkan kamu datang dan pergi sesukamu. Aku bukan lagi aku yang dulu meski dengan tegas kamu berkata bahwa mengusir raga bukan berarti juga mengusir rasa.

Di suatu senja di suatu hari. Kamu mungkin akan teringat pernah bersamaku di tempat ini. Namun nanti, ketika cerita ingin kamu ulang kembali, aku pasti sudah tiada.

Kamu tahu ? Kemarin adalah hal terberat dalam hidupku. Aku harus menerima kenyataan pahit tentang hidupku sendiri. Kenyataan yang dalam sekejap meruntuhkan segala harapan dan impianku. Saat aku terjatuh dan dibawa ke rumah sakit, dokter memvonis penyakitku. "Stadium Akhir dan tidak bisa tertolong lagi". Selama berjam-jam aku terbaring lemah menghadapi kenyataan terpahit dalam hidupku ini. Kalau pun hari ini aku mampu berdiri lagi di sini tanpa siapa-siapa seakan tak ada beban yang ku miliki, tentu itu karena doa dan semangat dari orang-orang yang menyayangiku. 

Sudahlah tentang vonis menakutkan itu. Lagipula 22 tahun bukanlah waktu yang sementara. Bagiku ini sudah cukup. Cukup untuk menikmati indahnya dunia. Meski sebenarnya belum cukup untuk menabung bekal untuk perjalanan setelah mati.

Jika malam ini adalah malam terakhirku, maukah kamu datang menemuiku untuk berkata jujur tentang siapa sebenarnya kamu ? Tentang semua hal yang pernah kutanyakan ? Sebab, yang sering terjadi adalah ketika kita mengetahui tentang sesuatu, maka sesuatu itu akan semakin menjadi-jadi, seperti penyakitku ini. Jangan takut. Semua pengakuanmu itu tidak akan menyakitkan terlalu lama. Kematian akan membawaku pada kematian rasa. Yang tersisa hanya amal kebaikan yang pernah aku beri.

Yang jelas, kepergianku yang selamanya akan mengajarkanmu bahwa presensi setiap orang dalam hidupmu harus kamu hargai. Kamu tidak bisa mengorbankan rasa untuk raga. Yang jelas, rasa bisa menjamin raga. Sedangkan raga belum tentu menjamin rasa. Itu saja.

Untukmu yang terakhir.
Dariku yang kurang beruntung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar