Hargailah Cinta dan Kasih Sayang, karena Keduanya Selalu Menyertai Kehidupan Kita

Kamis, 14 Maret 2019

Belajar Melepas Rasa dan Asa

Lama dia pergi. Lalu tadi malam dia datang mengabariku dan bilang bahwa dia akan segera menikah. Demi Allah, tak ada sedikit pun rasa sesalku telah bertahan dalam diamku. Tak ada sedikit pun rasa kecewa dalam hatiku atas ketetapan Allah atas dirinya.

Sudahlah. Mungkin dia hanya mencintai duniaku saja. Tidak dengan akhiratku. Terkadang aku bertanya pada diriku sendiri, lupakah aku ? bahwa dia pernah dengan sangat lemah menjaga rasanya untukku sendirian. Dia, lelaki yang beberapa tahun ini namanya selalu terucap dalam do’aku pernah dengan mudah pergi dari hatiku hanya karena aku telah meminta raganya pergi dari sisiku, dari hariku. Padahal kepergianku semata-mata ku lakukan untuk mencari ridha Yang Maha Kuasa, bukan hanya untukku, tapi juga untuknya. Bukankah dalam cinta, kadang mengusir raga tak berarti juga mengusir rasa, apalagi asa. Itu pun dia tak mengerti. 

Aku percaya bahwa segala ketetapan yang telah ditetapkan Allah atas aku dan dia adalah sebaik-baiknya ketetapan yang tak bisa ku ubah dengan cara apa pun, dengan rayuan apa pun. Bukankah segala yang terjadi dalam hidup ini telah tertulis jelas dalam Lauhul Mahfudz ? Segala rahasia pada akhirnya akan terungkap, termasuk rahasia pendamping yang terbaik bagiku kelak. Sekarang belumlah waktuku untuk bahagia, maka cukup ku syukuri saja kebahagiannya. Aku meyakini bahwa ini adalah jawaban Allah atas do’aku sepanjang dua tahun ini, bahwa Allah telah mengasihaniku mendo’akannya yang bukan jodohku. Pada hari ini, akhirnya aku sadar bahwa besok takkan ada lagi lantunan do’a yang sama seperti hari ini, do’a yang mengharapkannya kembali ke sisiku, memintaku menjadi pasangan hidupnya, kemudian hidup bahagia bersamanya dalam ikatan tali suci pernikahan hingga maut memisahkan sesuai janjinya dulu. Takkan ada lagi.

Memang benar bahwa selama akad belum terlaksana, semua hal bisa saja terjadi. Kita sama-sama tahu bahwa dengan kehendak Allah, rencana yang telah tersusun rapi pun bisa jadi hanya sebatas rencana. Sedangkan apa yang tidak pernah direncanakan, bisa jadi itulah yang terjadi. Namun akan ku hapus segala asaku. Hapus. Takkan ku biarkan semua itu menggodaku untuk kembali berharap lagi. Takkan ku biarkan apa yang disebut kesempatan itu merayuku hingga aku bisa salah lagi. Tidak akan, sebab akan ku relakan pernikahannya.

Berpikir positif itu memang memudahkan kita untuk bisa tenang menghadapi segala permasalahan yang ada, tapi tak semua hal harus dihadapi dengan berpikir positif, salah satunya adalah kenyataan yang memang pahit adanya. Berkali-kali telah ku peringatkan diriku sendiri tentang itu, tapi hatiku tetap berusaha untuk merayu pikiranku untuk percaya dan yakin bahwa pernikahannya pasti hanyalah mainan, bualan untuk menyenangkan hati kekasihnya saja. Nyatanya, mainan dan bualan itu ternyata adalah kemauan dan keseriusan yang dulu dia janjikan padaku. Tapi justru kepadakulah mainan dan bualan itu.

Begitulah jodoh. Seperti apa pun kita pernah mencintai seseorang di masa lalu, sesungguh apa pun kita berniat untuk kelak akan kembali menjemputnya demi menjadikannya sebagai kekasih yang halal bagi kita, kelak semua itu akan pudar oleh kehadiran jodoh kita. Karena sesungguhnya, cinta itu memang hanya sepantasnya kita sembahkan padanya. Meski awalnya niat kita hanya untuk bermain-main dengan perasaannya, kelak perasaan padanyalah yang dengan sendirinya ingin kita perjuangkan. Karena dialah, jodoh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar